WELLCOME IN INTAN'S BLOG

You'll fine the right business with the right person here.........so contact me please........

Selasa, 29 Juni 2010

KISAHKU DI IFASHION + JANUARI 2009





Marintan Siagian – Sunarko, Jakarta: Buktikan Diri Bukan ‘Produk’ Gagal



Tak mau dianggap sebagai produk gagal Intan bangkit membuktikan diri. Sederet prestasi berhasil diraihnya. Termasuk dua sepeda motor, dua mobil, ibadah haji dan wisata luar negeri.
Selasa pagi Intan tengah menyiapkan acara untuk pengembangan daerah bisnis di Bekasi. Kebetulan, saat itu akan ada arisan di tempat kakaknya. Biasanya Intan sekalian membawa barang pesanan member IFA yang ada di sana. Seperti hari itu, iapun membawa sejumlah barang pesanan. Produk itu ia siapkan dengan buru-buru. Apalagi, Hartono, fasilitator dari IFA Pusat yang akan mengisi acara berulang kali meneleponnya untuk dipandu jalan menuju lokasi.
Tepat pukul 10 pagi ia meluncur menuju Bekasi. Celaka. Sesampainya di Jalan Cacing sejumlah produk yang ia jepit di boncengan belakang sepeda motornya raib. Intan sempat muter balik untuk mencarinya. Tak beruntung. Barang itu telah tiada. Terpaksa ia mengganti produk pesanan itu senilai 500ribuan. “Maaf barang yang ibu-ibu pesan hilang di tengah jalan. Besok saya pesan ulang lagi untuk menggantinya,” janji Intan pada downline-downline-nya setibanya di rumah kakaknya di Bekasi itu.
Begitulah salah satu pengalaman pahit Intan dalam mengembangkan bisnis bersama IFA. Ia sempat kesal dan down. Tetapi itu tak berlangsung lama.
***
Awal mula mengenal IFA berasal dari adiknya, Marisi Siagian yang sudah bergabung lebih dulu. Saat itu ia dan suaminya, Sunarko sudah memiliki toko kelontong di Jalan Mindi, Koja, Jakarta Utara tak jauh dari rumah mereka. Sebelumnya ia juga sudah bergabung di sebuah MLM. Tiap tahun ia bayar iuran anggota. Tetapi bonus tak pernah ia dapatkan. Karenanya, saat diperkenalkan dengan IFA ia tak langsung bergabung. Adiknya dulu yang mendaftar. Itupun untuk mendapatkan Katalog terbaru untuk dikirim di rumah mertuanya di Ambon sana. Ternyata orang-orang di Ambon mengatakan bahwa harganya terlalu mahal dan minta dicicil pembayarannya. Adiknya tidak mau dengan sistem itu. Nyaris Mery, panggilan Marisi Siagian tak menjalankan IFA. Intanlah kemudian yang menekuninya. Ternyata banyak pula yang berminat membeli produk-produk di katalog tersebut.
“Bahkan belanjaan mencapai satu jutaan pada bulan-bulan awal. Semua masuk ke nama Mery karena saya belum mendaftar member,”ujar Intan saat ditemui di rumah sekaligus Depotnya di bilangan Koja Jakarta Utara awal Januari lalu.
Kian hari jualan Intan semakin meningkat omzetnya. Intan pun memutuskan untuk bergabung menjadi member IFA. Indawati, pemilik Depot IFA di Jakarta Utara saat itu menjadi upline-nya setelah Mery. Dari Inda lah Mery dan Intan mengenal IFA melalui iklan yang dipasangnya di sebuah tabloid Ibu Kota. Intan mengaku selama setahun menjalankan IFA tak pernah bertemu langsung dengan Inda. Baru Juli 2005, hampir setahun ia menjadi member IFA ia bertemu Inda di sebuah acara IFA.
Tahun-tahun pertama menjalankan IFA, Intan mengaku hanya paruh waktu menekuninya. Maklum, ia juga sibuk mengelola tokonya. Ia tak berpikir untuk mengembangkan lebih jauh lagi. Ibu dua anak ini masih belum terobsesi untuk menjadikan IFA jalan bisnisnya. Wajar jika baru memperoleh bonus 200 ribu hingga tiga ratus ribu rupiah saja senengnya bukan main. “Ternyata iseng-iseng dapat duit juga ya,” kenangnya bangga.
Dengan memiliki toko kelontong sebetulnya Intan sudah cukup memunyai penghasilan lebih. Apalagi suaminya, Sunarko juga punya profesi sebagai anggota TNI Angkatan Laut. Untuk kebutuhan keluarga sudah lebih dari cukup. Tetapi kenapa ia juga tertarik untuk menekuni IFA?
“Karena kerjanya lebih simple, nggak secape buka toko,” demikian Intan beralasan. Ia mengaku, saat mengelola toko dan menjaga satu orang anak waktu itu cukup kerepotan juga. Kerjanya pun monoton. Buka pukul 6 pagi, tutup pukul 6 sore. Nyaris, kata dia, tak ada waktu untuk mengurus diri sendiri. Untungnya memang lumayan. Apalagi tak banyak toko serupa di wilayah itu. Biasanya, suaminya, sepulang dinas juga langsung ke toko untuk membantu Intan berjualan.
“Anak terlantar, capek di badan, capek di hati juga iya,” akunya dibenarkan oleh suaminya yang sore itu mendampingi Intan berbincang-bincang dengan penulis. “Gimana nggak capek hati, kalau jam tujuh toko belum buka, pintu digedor-gedor orang,” tuturnya lagi.
Nah, dengan bisnis ala IFA, membuka Depot di rumah, diakui Intan tak selelah buka toko. Sembari mencatat orderan dari pelanggan, menyiapkan barang, ia pun tak kesulitan menjaga dua anaknya Ridwan Novanto (9) dan Billy Dharma Elsandi (1).
Faktor lain yang membuat Intan akhirnya fokus menjalankan IFA adalah setelah mengenal langsung dengan Tanu Sutomo, pendiri sekaligus pimpinan puncak IFA. Ia tertarik dengan kerpibadian Tomo yang mempunyai keinginan mengangkat derajat kaum lemah. Pertemuannya dengan direktur IFA itu saat Intan mengikuti IFA Leadership Program (ILP) I di Pamulang, Tangerang. Ia sangat terkesan dengan salah satu ucapan Tomo yang menurut Intan mampu membangkitkan dirinya untuk lebih maju dan sukses.
“Ayo Intan kamu bisa. Kamu itu bukan produk gagal yang diciptakan Tuhan di dunia ini. Kalau kamu banyak alasan… prut…!” papar Intan menirukan ucapan Tomo ketika memberikan couching di ILP pada November 2006 silam.
Karakter orang Batak, tutur Intan, biasanya tidak mau dilecehkan. “Apaan saya digituin, emang saya nggak bisa!” batin Intan kala itu. Dari ucapan Tomo itulah Intan tertantang untuk bangkit dan maju mencapai hasil yang lebih baik. Karenanya, meski harus meninggalkan anak selama tiga hari siang malam ia tetap datang di ILP untuk mengikuti pelatihan itu.
Beruntung, suami Intan, Sunarko mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan sang istri dengan bisnis jaringannya itu. Meski pada mulanya, awal-awal Intan menjalankan IFA, Sunarko sempat menyarankan agar berhenti saja menekuni IFA. Pasalnya, ketika itu, Intan menemui banyak masalah dalam menjalankan IFA, bahkan kerap ribut dengan upline-nya, entah soal pengiriman barang, salah kirim, dan semacamnya. Bahkan, seperti pengakuan Sunarko, ia pernah mengatakan kepada Intan agar berhenti saja menjalankan IFA. “Emang saya nggak bisa kasih makan kamu apa,” kenang Sunarko ketika itu.
Sunarko juga mengaku, kesibukannya mengelola toko kelontong dengan sang istri juga menyita kesibukan dan fisik luar biasa. “Sepulang kerja itu saya mirip sekali dengan kuli pasar karena harus mengantar barang-barang pesanan pelanggan,” imbuh Sunarko. Hingga suatu ketika ia mengutarakan pada Intan bagaimana caranya agar orang datang ke mereka, kerja fleksibel, dan tidak dikejar-kejar orang. Kerja tidak berat, tetapi uang datang dengan sendirinya. Dari situlah Intan dan suami mulai serius menjalankan MLM, yakni IFA.
Selain itu, keseriusan menjalankan IFA juga didorong oleh keinginan memberikan yang terbaik untuk keluarga, terutama anak-anak mereka. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang, hingga pendidikan. Keduanya sangat ingin bisa mengantarkan anak-anaknya hingga jenjang pendidikan tertinggi.

Capaian Luar Biasa
Hasil keseriusan Intan dan Sunarko selama empat tahun itu kini membuahkan capaian yang luar biasa. Dua sepeda motor mereka peroleh dari KCSM. Intan memerolehnya pada Maret 2007, sedang Sunarko baru pada Oktober 2008. Selain itu Komisi Perjalanan Ibadah [KPI] (Des. 2007), Komisi Perjalanan Wisata 1 (China-Hongkong, Agustus 2008) juga sudah Intan dapatkan. Wisata itu Intan nikmati pada 13-18 November 2008 lalu bersama tujuh orang member IFA lainnya. Tak hanya itu, meski sudah memiliki sebuah mobil hasil dari jerih payahnya menjalankan IFA, bonus mobil gratis juga Intan dapatkan pada Januari 2009 melalui Komisi Cicilan Mobil (KCM). Tentu perolehan ini sangat membahagiakan dan membanggakan Intan dan keluarganya.
Terlepas dari itu, bukan berarti tak ada dukanya menjalankan IFA. Diakui oleh Intan dan Sunarko, duka itu juga ada. Misalnya, selain sering dikomplain pelanggan atau jaringan karena salah kirim barang, barang cacat, dll, juga pernah di ‘cerca’ orang bahwa dirinya (Intan) orang rakus. Sudah punya toko, tapi masih juga bersibuk ria menjalankan MLM. “Wajarlah yang namanya orang kerja pasti ada saja komplain dari pelanggan. Pembeli kan tahunya kita, nggak peduli proses kerja dari Pusat itu seperti apa,” sela Sunarko bijak.
Atas ‘cercaan’ orang itu Intan mengaku sempat tersekat juga. Tetapi Intan juga berfikir, sepanjang apa yang ia lakukan itu halal, tidak mengambil rezki orang lain dan tidak mengeluh kelelahan pada orang lain ia merasa apa hak mereka berkata negatif pada dirinya. “Kecuali orang lain buka usaha di satu tempat lalu saya buka disebelahnya dengan usaha yang sama, baru itu namanya ngambil rezki orang lain,” Intan beralasan.
Selain itu, duka Intan yang lain adalah disaat sang suami dinas ke luar kota. Maka, ia mesti antar barang pesanan pelanggan sendirian. Sering hal itu ia lakukan siang hari hingga larut malam, pukul 24.00. Kepanasan dan kehujanan bukan kali pertama ia rasakan. “Sering ketika pulang larut malam kehujanan pula,” ujar Intan.
Sunarko bukan tidak tahu istrinya banting tulang mencari tambahan penghasilan hingga larut malam. “Tapi gimana lagi, saya kan lagi dinas di Surabaya. Kalau di Jakarta pasti saya antar seperti selama ini saya lakukan,” tandasnya.
Sunarko pun pernah mengalami kejadian pahit dalam menjalankan IFA. Pernah suatu hari, Sabtu, ia harus mengantar barang ke Desa Mustikasari, Bekasi Timur. Celaka, di tengah perjalanan, motornya nabrak mobil yang tiba-tiba berhenti di depanya hingga ringsek tak dapat berjalan kembali. “Mobil itu belok mau masuk sebuah proyek bangunan, tetapi tak menyalakan lampu sign,” tutur Sunarko mengenang. Sempat ribut. Tetapi mungkin karena koordinator proyeknya kebetulan dari Kopassus, mengatakan akan mengganti seluruh kerugian yang timbul dari kecelakaan itu. Benar, selain bersedia mengantarkan Sunarko ke Bekasi, juga membawa motor miliknya ke bengkel untuk diperbaiki.
“Itu komitmen saya. Bagaimanapun caranya barang pesanan itu mesti sampai pada pelanggan,” Sunarko mengenang. Celakanya lagi, akibat tabrakan itu Sunarko tak lagi mampu berjalan. Kakinya lumpuh tak dapat digerakkan. Sempat ia berpikir kelumpuhan itu tak dapat dipulihkan. Meski begitu, ketika istrinya Intan menelponnya menanyakan sudah sampai di mana, Sunarko menjawab “Sudah dekat, bentar lagi sampai,” katanya tanpa memberitahukan peristiwa kecelakaan itu pada Intan. Intan membenarkan hal ini.
Syukurlah berkat bobokan jahe yang dibuat Intan, kelumpuhan yang terjadi sejak siang hari hingga malam itu berangsur pulih. “Pukul tiga pagi ketika saya hendak ke kamar mandi, lho koq bisa jalan lagi?” batin Sunarko merasa takjub sekaligus gembira karena bayang-bayang kelumpuhan itu sirna. Menurut Sunarko, kejadian ini merupakan pengalaman terburuk dalam menjalankan IFA.
Setelah menikmati hasil yang luar biasa dari bisnis IFA yang mereka jalani, toko kelontong yang selama ini menyuplai kocek keluarganya itupun justru ditutupnya pada awal tahun 2008 lalu. Dua tahun sebelumnya mereka memang mengurangi aktifitas pengelolaan toko dan diserahkan pada adiknya yang masih kuliah untuk meneruskannya. Sayangnya, mungkin karena melihat perkembangan toko milik Intan yang luar biasa itu, banyak orang di sekitar toko miliknya membuka toko serupa. Sehingga karena banyak persaingan keuntungan toko menjadi kian menipis. Belum lagi munculnya outlet modern semacam Alfamart dan Indo Maret juga menjamur. “Kita jadi mati kutu,” kata Intan.
Selain itu beberapa pelanggan dari pemilik kapal di pelabuhan juga menghentikan langganannya kepada Intan karena adanya kebijakan penutupan akses ke pelabuhan. “Sejumlah kapal perang dan kapal muatan penumpang berhenti berlangganan,” papar Intan. Maka, akhirnya ia dan suami memutuskan untuk menutup toko itu. Adik Intan yang selama dua tahun terakhir mengelola toko akhirnya berpindah haluan membuka warnet.
Keberhasilan Intan dan suami dengan IFA-nya tak ia nikmati sendiri. Kakak dan adiknya yang sejak lama sudah ia rekrut untuk menjadi member IFA juga sudah menikmati hasil yang menggiurkan. Satu kakaknya di Bekasi kini sudah berhasil membuka Depot IFA. Satu lagi adiknya yang di Depok tak lama lagi juga membuka Depot. “Saya pengennya semua keluarga saya itu membuka Depot, karena semua turut mengembangkan IFA,” harap Intan. Dalam keluarga, perempuan kelahiran Sidikalang 11 Agustus 1976 ini merupakan tujuh bersaudara. Empat perempuan dan 3 laki-laki.
Hal lain yang membuat Intan bahagia dalam menjalankan IFA adalah ia merasa banyak saudara. Tak hanya saudara kandung yang ia miliki, seluruh jaringan IFA dari Sabang hingga Merauke yang ia punyai terasa seperti saudara dekat semua. Orang yang semula tak ia kenal, kini malah seperti saudara sendiri. Depot di Sorong adalah salah satunya. “Saya menganggapnya seperti keluarga sendiri,” tandas Intan.
Jaringan Intan sendiri kini sudah mencapai 1500-an lebih. Maka wajar jika kini ia dan suami menikmati hasil jerih payahnya itu. Intan berharap semua keluarga dan saudaranya dapat merasakan seperti apa yang ia rasakan kini. Termasuk dapat menikmati wisata luar negeri gratis dari IFA. Sebab, kata Intan, sebagai isteri seorang anggota TNI, mustahil dapat menikmati jalan-jalan ke China dan Hongkong. Nginap di hotel bintang lima dengan fasilitas serba mewah. “Dengan IFA apa yang tak mungkin,” katanya bangga.
Kunci sukses Intan sebagaimana ia tuturkan adalah karena fokus, punya tekad untuk meraih apa yang menjadi impiannya, lalu berusaha semaksimal mungkin. “Dan jangan lupa itu semua juga karena Allah sayang sama saya. Jika tidak, nggak mungkin saya memeroleh capaian-capaian yang luar biasa itu,” papar Intan tak melupakan Sang Pemberi Kuasa. Intan yakin bahwa semua perolehan itu karena kekuatan dan turut campur dari-Nya.
Intan memang beruntung. Saat ILP 1 digelar IFA Pusat, dialah peserta satu-satunya berkarir ISA (IFA Silver Agent) yang lolos mendapatkan KCSM . Lalu karena kegigihannya dalam membina jaringan berbuah manis dengan memeroleh KPI pada Desember 2007. Bina jaringan itu antara lain dengan menggelar Gebyar Pengembangan Daerah baru dan mengirim jaringan untuk mengikuti ILP 2. Home Sharing pun kerap ia lakukan. Juga pendampingan pada member dan leader agar mereka betul-betul memahami system, produk serta program untuk mengembangkan IFA.
Bahkan banyak acara-acara bina jaringan dan pendampingan yang Intan lakukan merupakan acara-acara non-formal seperti arisan dsb. Baru belakangan, atas saran upline-nya Indawati, Depot Lilik Sri Jakarta, Intan memasang iklan di sebuah tabloid Ibu Kota. Iklan itu ia lakukan saban pekan. Karir IFA Gold Agent (IGA) pun kini ia sandang dan sejumlah prestasi pun masih terus terbentang. [ ] AN Januari 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar